Suku Kajang dan sebuah makna kesederhanaan

Suku Kajang hidup dan menetap di kecamatan Kajang kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Mereka hidup berkelompok dan setiap hari hidup dalam kesederhanaan. Bahkan mereka sangat menolak sesuatu yang berbau dengan moderenisasi. Jangan heran jika tidak ditemui perabotan seperti kasur, kursi, radio ataupun televisi dalam rumah – rumah suku kajang. Daerah yang disebut Tana Toa ini sangat memegang teguh adat yang sudah turun temurun disana, adat ammatoa begitulah masyarakat kajang menyebutnya. Sangat berbeda jauh dengan masyarakat pada umumnya. Seperti kita ini, moderenisasi sudah menjadi bagian hidup kita sehari – hari.

rumah suku kajangKeunikan dan kesederhanaan lain dari suku kajang adalah bentuk rumah yang sama. Daeng Syamsoe & Tetua adat Suku Kajang Mereka menganggap persamaan itu adalah sebuah simbol kebersamaan. Setiap harinya, mereka juga memakai baju warna hitam. Selain simbol keseragaman dan kesederhanaan, warna hitam juga dipercaya bahwa suku kajang harus selalu ingat akan hari akhir atau kematian. Konon mereka melakukan ini karena ajaran para leluhurnya, ini menjadi bukti keteguhan dan kepatuhan dari suku kajang. Bandingkan dengan kita ini, yang selalu berlomba – lomba mengikuti trend mode atau fashion yang sedang berkembang.Rumahpun dibangun bermegah – megahan, tidak ada lagi rasa keseragaman dan kesederhanaan dalam masyarakat modern saat ini.

Selain patuh terhadap adat ammatoa, suku kajang juga memiliki kepercayaan agama. Ajaran Patuntung namanya. Patuntung jika dalam bahasa Makassar adalah mencari sumber kebenaran. Berdasarkan ajaran tersebut, jika manusia ingin mencari sumber kebenaran mereka harus menejalankan tiga pilah hidup.

  1. Menghormati Turiek Arakhna ( baca: Turi arakna ), yaitu TUHAN
  2. Menghormati tanah pemberian TUHAN
  3. Menghormati nenek moyang / leluhur

Menghormati Turiek Arakhna / Tuhan merupakan hal yang paling mendasar dalam ajaran Patuntung. Dan mereka sangat percaya bahwa Turiek Arakhna adalah Tuhan yang Maha kekal, Perkasa dan Maha Kuasa. Mereka juga menyakini bahwa Turiek Arakhna menurunkan perintah kepada orang pertama. Di Tana Toa orang pertama disebut Ammatoa, yang sekaligus menjadi tetua adat di Suku Kajang. Bagi mereka Ammatoa dianggap sebagai orang suci. Ammatoa ini tidak pernah keluar dari daerah tersebut, kalaupun harus keluar paling juga sampai di pintu gerbang saja. Pesan suci atau pasangsi dari Turiek Arakhna selalu disampaikan kepada Ammatoa melalui mimpi.

Suku Kajang juga diwajibkan untuk menghormati dan menjaga tanah pemberian Tuhan, salah satunya Hutan. Hutan menurut suku kajang adalah Ibu. Bagi masyarakat suku kajang, ibu adalah orang yang harus dihormati. Dan sebagai mujud rasa hormatnya, hutan harus selalu di jaga kelestariannya. Jika ada warga yang menebang hutan secara liar, maka akan mendapatkan sanksi adat. Mereka percaya bahwa jika menebang hutan secara liat akan membuat Turiek Arakhna murka / marah. Mereka juga percaya Turiek Arkhna akan memberikan Kutukan bagi sipenebang hutan dan musibah bagi Tana Toa. Lihatlah dengan kita…menebang hutan untuk membuka lahan baru, entah itu untuk perkebunan karet, perkebunan sawit atau bahkan untuk membangun Istana ( villa ) bagi segelintir orang. Sumatera, Kalimantan dan Bogor tercatat paling parang kondisi hutannya.

Selain itu suku kajang juga diwajibkan untuk selalu menghormati leluhurnya. Mereka wujudkan dalam sebuah tradisi ritual bersih kubur, mereka percaya dengan ritual bersih kubur bisa berkomunikasi dengan para leluhurnya. Jika ada suku kajang yang tidak tinggal didaerah itu, maka pada saat ritual bersih kubur ini harus datang dan hadir. Walaupun dalam perkembangannya suku kajang memeluk agama Islam, akan tetapi ajaran Patuntung tetap mereka jalankan. Sebagai wujud kepatuhannya terhadap adat Ammatoa. Bandingkan dengan kita..yang tiap tahun baru asyik tiup terompet, yang setiap hari ulang tahun malah tiup lilin..bukan kah itu adat orang – orang bule. Kemana semua larinya adat – adat kita, tak lama lagi adat – adat ini akan terancam punah seperti 15 bahasa daerah itu.

Tidak hanya tiga pilar hidup ini yang diwajibkan bagi mereka. Mereka juga diwajibkan untuk menghormati kaum perempuan. Dalam adat suku kajang, perempuan sangatlah dihormati. Dalam contoh, didaerah tersebut sumur hanya ada beberapa saja. Jika ternyata di sumur tersebut ada seorang perempuan sedang mandi atau mengambil air, maka kita / laki – laki tidak boleh langsung ke sumur tersebut. Barulah setelah perempuan tersebut selesai, kita baru boleh ke sumur tersebut. Jika ada yang tidak mematuhi peraturan tersebut bisa sampai nyawa hukumannya, karena sangat pantang dan termasuk pelanggaran asusila. Lihatlah dan bandingkan dengan kita…Perempuan dijadikan obyek kekerasan, bahkan sampai dijual layaknya barang dagangan.

Sudah sangat turun temurun suku kajang telah menjalankan ajaran Patuntung dan patuh terhadap atad ammatoa. Wajar saja jika mereka sampai dengan sekarang tetap hidup dalam kesederhanaan. Kesederhanaan adalah simbol kebersamaan, yang menjadikan hidup mereka rukun. Pelajaran yang sangat berharga buat kita semua, memaknai hidup memang terperlu sesulit yang kita bayangkan. Hiduplah dalam kesederhanaan maka kau akan temukan makna hidup sebenarnya..bagaimana dengan anda??. Bisakah kita hidup dalam kesederhaan..

Diambil dari berbagai sumber : Voice Of Indonesia. Gambar dari syamsoe.com

12 Responses to “Suku Kajang dan sebuah makna kesederhanaan”

  1. U-marr says:

    wah terancam punah juga yah.
    semoga suku ini bisa bertahan dan tidak punah yah. amien πŸ˜€

  2. Mr, Kem says:

    @ U-marr : Kabar terbaru mereka makin tergusur aja..tapi mereka tetap bertahan dihutan.

  3. orange float says:

    mereka yang hidupnya sederhana jauh dari modernisasi saja mengerti bagaimana memperlakukan perempuan dgn baik. salut deh

  4. wah,. budaya leluhhurnya masih kental bgt yaj. sayang klo sampe hilang dan punah dinegara ini.. negara harus segera memprotec dan turun tangan langsung untuk pencegahan kepunahan.. agar jgn sampai punah.. ini kan menunjukan bahwa indonesia kaya akan budaya dan keunikan berbagai macam suku dan etnis.. πŸ˜€

  5. edratna says:

    Sayang saya di Sulawesi Selatan baru sampai ke Makassar, sempat lewat Pare-Pare saat mau ke Makale

  6. Mr, Kem says:

    @ Radhityanote: Terima kasih jg..semoga bermaanfaat.

    @ Ms Zakariah : Betul..jangan biarkan kesibukan berpolitik mengesampingkan masalah ini. Penggusuran suku pedalaman hendaknya menjadi masalah serius yang harus segera di selesaikan

    @ Ibu Edratna : Waah sudah pernah ke Makassar ya…kalo mau ke daerah suku kajang ini kalo tidak salah ke arah pantai tanjung bira, arah barat..kalo tidak salah, soalnya saya bingung disana..hehe

  7. Fikar says:

    Kasian sekali klo tergusur. Padahal mereka ga hidup di kota, tapi dihutan. Mereka ga dagang di kaki lima, atau bikin rumah tanpa izin wako,kok malah tergusur, mereka kan menempati tanah mereka sendiiri. Ah,,, negeri ku, ga dikota ga dihutan, semuanya tergusur.
    Lam kenal gan?

    # Fikar …kasian banget, mereka bukan kriminil…mereka juga tidak menuntut apa2, mereka hanya minta tanah leluhurnya dikembalikan…mereka ingin hidup damai, menjalankan aturan dari leluhurnya…

  8. TuSuda says:

    Hidup sederhana kembali kepada kemurahan alam, merupakan sikap teladan paling mulia. Seringkalikarena pengaruh modernisasi kita melupakan hal ini. Sudah saatnya kita kembali pada yg alami, Back to Nature…

    Mr, TuSuda …hmmm..setuju banget, sampai tak bisa berkata – kata…hehe

  9. HERMAN says:

    saya sebagai orang kajang sangat prihatin dengan kondisi adat sekarang,, pada dasarnya amma toa sangat menjunjung tinggi kesederhanaan kini mulai mengikis dengan terpengaruh oleh modernisasi.. dan saya sayangkan jika dikemudian hari adat kajang itu tinggal sebuah sejarah. akankah kita terus berdiam untuk mengikuti arus?

  10. karaeng kajang says:

    tanks telah mengankat adat dan tradisi suku adat kehidupan demokrasi suku kajang yang penuh dengan keARIFAN DAN KESEDERHANAAN DALAM MENYIKAPI MODERNISASI

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

CommentLuv badge