0811370643 order@kamroni.com
0811370643 order@kamroni.com
Une rue de Makassar.
Image via Wikipedia

Ono limolas boso daerah bakalan musno, sebab e arek – arek saiki rodho isin nggawe boso daerah. Jarene ora gaul..hehe. Sebaris kalimat yang saya tuliskan diawal ini adalah bahasa jawa, saya sendiri tidak yakin benar atau tidak ejaannya. Kurang lebih bahasa Indonesia nya adalah “Ada lima belas bahasa daerah yang akan punah, karena anak – anak muda sekarang terkesan malu memakai bahasa daerah”. Ketika saya blogwalking dan menemukan artikel yang menyatakan bahwa ada sekitar 15 bahasa daerah terancam punah, artikel tersebut dilansir dari kompas.com. Informasinya bahasa yang terancam punah tersebut adalah kebanyak dari Indonesia timur, ke 15 bahasa ini tergolong terancam punah karena dari hasil penelitian Pusat Studi Bahasa dua tahun lalu menunjukkan bahwa bahasa tersebut dipakai kurang dari 200 orang. Bahkan dua bahasa betul – betul nyaris punah karena diperkirakan hanya dipakai oleh 5 – 10 orang saja.


Menurut Direktur Direktorat Peninggalan Purbakala Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Junus Satrio Atmodjo salah satunya adalah bahasa lokal Maluku. Masih menurut Junus, berdasarkan data ada sekitar 738 bahasa lokal dari sekitar 500 etnis di Indonesia. Tercatat bahasa daerah paling banyak adalah Papua, dengan jumlah lebih dari 200 bahasa. Sedangkan Kalimantan juga tercatat termasuk memiliki bahasa daerah paling banyak, terdapat sekitar 200 bahasa. Disadari atau tidak, bisa saja lima tahun atau sepuluh tahun lagi bahasa Jawa terancam punah juga. Karena bisa dilihat dari bahasa keseharian kita sudah sangat jarang memakai bahasa daerah, termasuk saya sendiri.

Ketika saya baca artikel tersebut, terasa mengena sekali…sangat sadar, saya jarang sekali memakai bahasa Jawa yang notabene itu adalah bahasa daerah karena saya asli orang Jawa. Tak tau kenapa saya jadi kagok banget memakai bahasa Jawa, karena mungkin terlalu lama merantau kali ya.. enam tahun di Makassar dan dua tahun di Palembang, apalagi sekarang istri saya orang Palembang jadi bertambah deeh masalahnya. Tapi mudah – mudahan ini hanya terjadi pada saya saja. Sepatutnya orang tidak boleh melupakan bahasa daerahnya, karena itu juga termasuk bahasa ibu. Tetapi saya tetap berusaha memakai bahasa Jawa ketika berhadapan / bercakap dengan orang Jawa. Terlebih jika saya sedang ke rumah orang tua yang ada di Pasuruan.

Banyak faktor yang menyebabkan hal ini, salah satunya karena banyaknya pengaruh bahasa asing yang masuk dilingkungan kita. Dikalangan anak muda lebih banyak yang bangga jika bisa berbahasa asing. Hal ini pun juga tidak bisa kita hindarkan, karena sekarang tuntukan untuk bisa berbahasa asing cukup tinggi. Situasi ini bertambah karena banyak perusahaan – perusahaan besar yang menginginkan karyawan – karyawan baru menguasai bahasa asing tertentu. Untuk mencegah punahnya bahasa daerah hanya dengan satu cara, gunakanlah bahasa daerah untuk komunikasi sehari – hari ( tentunya disesuaikan dengan situasi ). Karena bahasa daerah juga termasuk warisan budaya bangsa. Kalau bukan kita siapa lagi yang bisa melestarikannya..

Reblog this post [with Zemanta]
About the author

Seorang lelaki normal, wanita selalu terlihat cantik dan sexy dimatanya. Selain hobi nulis di blog dia juga senang olah raga, basket dan bersepeda masih jadi olah raga favoritnya. Dia juga menyukai segala jenis musik, tapi musik rap menjadi favoritnya sejak SMP.
17 Responses
    1. Mr, Kem

      @ Mas Wahyu : Iya seh mas, karena jumlah orangnya lebih banyak untuk suku jawa. Kalo basa lainnya ya itu tadi…bisa jadi langka.

      @ Mas Umarr : Hehe..ga harus sampe segitu kali..

    1. Mr, Kem

      @ Mas Anwar : Iya mas..saya lama juga di Palembang, banyak juga yang bisa bahasa jawa. Sebelum terancam punah makanya kita kudu melestarikannya…hehe..siapa lagi kalo bukan kita

  1. wah mas, artikelnya keren banget mas,, benar mas jagan sampai bahasa daerah kita terancm punah, tapi masih banyak yang bisa bahasa daerah,, mungkin lantaran malu kali mas untuk interakasi dengan orang lain,, menurut saya dengan megunakan bahasa daerah kita bisa menjadi diri kita sendiri mas,, sekalian budayakan daerah kita masing2,,,

  2. saya pernah ke papua (jayapura), disana tidak ada yg menggunakan bahasa papua klo menurut pengamatan sy.. orng asli sana pun begitu jg (anak mudannya).. krn banyak orng pendatang dari berbagai macam daerah.. jd mungkin itu salah satu faktor punahnya bahasa daerah.. tp klo bahawa jawa mgkn susah untuk hilang.. soale anak2 kecil sudah menggunakannya.. jd tiap ngobrol ya gunain bahasa jawa..hehe.. 😀

    1. Mr, Kem

      @ Mas Winarto : kenken..apa maksudnya mas?..hehe

      @Pak sawali : Betul pak..jangan sampai warisan budaya ini musnah.

      @ Mamah Aline : Prihatin sebenarnya…temen saya bilang, di daerah Surabaya bahasa daerah sudah tidak ada lagi di SD. gimana coba..

      @ Ibu Edratna : Memang harus tetap disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan…kalo dikantor seh baiknya pakai bahasa Indonesia

  3. sungguh disayangkan kalau sampai musnah, hingga saat ini bahasa daerah diakui sbg salah satu kekayaan budaya bangsa. banyak nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya, perlu ada upaya serius utk melestarikan sekaligus mengembangkannya.

  4. Memang serba salah..dikantorku bahasa Jawa, secra tak sengaja, menjadi bahasa sehari-hari walau bahasa Jawa ngoko…bahkan dari daerah lainpun akhirnya memahami bahasa Jawa kalau ingin memahami percakapan..ini akibat banyaknya orang Jawa di kantor. Masalahnya tak etis kan kalau kita berbahasa daerah dilingkungan kerja? Untuk menghargai orang lain, maka dipakai bahasa Indonesia..akibatnya kita makin lupa terutama bahasa daerah yang aslinya….kecuali yang memang sering dipake.

    Mungkin bisa melalui media yang khusus memakai bahasa tsb, seperti Panyebar Semangat untuk bahasa Jawa, atau Mangle untuk bahasa Sunda.

  5. ayolah pemerintah lebih sadar dengan kekayaan budaya dan suku indonesia masak bahasa sampe akan hilang payah ueyy

    berkunjung dan ditunggu kunjungan baliknya
    makasihhh
    😀

Leave a Reply

CommentLuv badge